tentang waktu

tentang waktu

 

IMG_7587

Hi…waktu…

Ada banyak cerita yang ternyata berlalu begitu saja. Ketika ku biarkan waktu menggilas semua kenangan. Ketika semua penyembuhan dan pembiasaan ku serahkan meluruh. Tepat setahun waktu itu, dia datang tak membawakan bunga atau haru. Yang ada adalah harapan dan waktu yang terus berpacu.
Read more

Advertisements
tentang Ciput!

tentang Ciput!

Kalau kita berpikir positif, suasana dan segala macam rupa akan menularkan hal yang positif pula.

IMG_4096.JPG
Kemarin sore, saat saya menghabiskan waktu sendu menonton matahari terbenam di pantai tiba-tiba saya merenungi nasib mereka yang memiliki kekuatan tambahan. Bagaimana rasanya jika kita bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang ketika kita sekadar berjabat tangan atau bertukar pandang? (oke saya masih bereuphoria dengan Goblin)

Read more

tentang penyetaraan ijazah luar negeri

tentang penyetaraan ijazah luar negeri

Apa yang terbayang jika kita harus berurusan dengan administrasi dan birokrasi?

images-2.png

Beberapa tahun lalu saya membayangkan proses yang berbelit, tidak jelas, lama, pungli dan petugas yang judes!
Namun pengalaman saya dalam menyetarakan ijazah Luar Negeri memberikan kesan yang berbeda.
Saya bisa menangguk dan tersenyum, mengiyakan bahwa revolusi mental sudah mulai bergerilya!
Sebenarnya panduan untuk penyetaraan ijazah luar negeri sudah tertulis dengan jelas di laman RISTEKDIKTI INI.
Diawali dengan membuat akun, agar nantinya kita mudah untuk mengikuti proses penyetaraan dan memantau perkembangannya.
Hal yang terpenting dalam penyetaraan Ijasah ini adalah memastikan bahwa syarat-syarat harus dilengkapi. Apalagi untuk yang berdomisili di luar Jakarta, agar tidak bolak-balik dan memperlambat proses verifikasi dokumen.
Secara garis besar syarat yang harus dipenuhi adalah:

Read more

tentang tagar tahun baru

tentang tagar tahun baru

Tahun baru kali ini tidak seperti biasanya, saya tak terlalu antusias menuliskan resolusi tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya. Alasan utamanya ya karena Saya bingung mau menulisIMG_3040.JPGkan apa. Tapi berhubung #BlinyaKadek nanya-nanya manja, mau tak mau akhirnya Saya susun juga beberapa goals di masa depan.

Sebagai bantuan untuk mengingatkan dan langkah nyata Kadek Go Blog lagi, akhirnya Saya putuskan untuk curhat di sini saja.

PS: Jangan merasa baper jika saudara-saudara merasa sangat akrab dengan tagar-tagar fenomenal yang sudah bertebaran di sosmed sejak dulu kala HAHAHA. *kadeeeek mayuuu

1. Lebih rajin bersyukur #DoiPromo

Belum genap setahun saya kembali ke tanah air, tentu reverse shock culture (terkadang) masih terasa. Tetapi lima bulan ke belakang ini saya sangat beruntung bisa melewati dengan lancar dan berbahagia. Lingkungan saya dan segenap penghuninya: Keluarga, teman sepermainan, kantor dan mbak/mas CS sudah dengan sangat sabar mendengarkan keluhan dan mencarikan solusi untuk setiap masalah penyesuaian diri saya. Pihak pemberi beasiswapun  tak lepas tangan dalam proses adaptasi kembali ke tanah air. Saya masih diundang untuk ikut meeting dan workshop pengembangan diri, difasilitasi untuk aktif dengan para alumni USA-Indonesia sehingga saya bisa lebih cepat menata diri dengan situasi. Tahun 2016 menjadi tahun yang penuh dengan banyak pengalaman luar biasa bagi pribadi saya yang terus ingin bertumbuh. Solotrip ke Yosemite dan Alaska, Wisuda S2 dan beberapa awards penyertanya, Pernikahan kakak dan upacara mesangih kami, Suasana kerja dengan partner kerja dan atasan yang sangat sportif, serta teman-teman baik saya yang selalu memberikan dukungan untuk melaju dari semua cerita di masa lalu. #eyaaaa Read more
tentang Uber dan Generasi Millenial

tentang Uber dan Generasi Millenial

Generasi Millenial, generasi yang konon katanya travel addict, budak teknologi, dan tak mau ribet dengan urusan kepemilikan. Sebutan travel addict ini muncul ditengarai dengan terseksposenya tempat-tempat wisata anti mainstraim dengan ribuan hastag yang bertebaran sebagai caption saat diunggah di social media. Budak teknologi, ketika generasi 80-90an ini lebih memilih untuk sibuk dengan ponsel sendiri daripada mengobrol dengan penumpang lain saat dalam angkot atau kendaraan umum. Tak mau sampai tua bekerja hanya untuk melunasi utang, bisa jadi penjabaran yang pas untuk mengekspresikan kebebasan generasi ini dalam mendefinisikan kata sukses. Sukses bukan lagi diukur dari seberapa banyak rumah atau mobil yang bisa kita beli. Sukses versi kekinian adalah mereka yang menginvestasikan kekayaannya dalam bentuk pengalaman, pengetahuan dan inovasi. Sebuah artikel yang berjudul Why young people don’t buy  cars and apartments menyebutkan, di Amerika Serikat penduduk yang berusia di bawah 35 tahun yang dikenal dengan sebutan “the generation of renters” memaknai fleksibiltas dan kemandirian dalam hidup lebih tinggi nilainya daripada sekadar kekayaan materi belaka.

mujAdw_millennials.png
Gambar dari sini

Jumat yang padat (seperti biasa, saya sudah mulai terbiasa) menikmati Bali yang super macet bersaing dengan kota Metropolutan Jakarta atau Kota Banjir penuh cinta, Bandung. Bali penuh sesak dengan genangan banjir dan kenangan nostalgia mantan pacar. *apeeeu #SempatGenGalau.

*Plak!

Doi Fokus!  Read more

tentang rasa syukur

tentang rasa syukur

Siang yang panas memaksaku duduk lesu-mengantuk- di depan meja kerjaku. Berhubung tidak ada jadwal di kelas, aku memilih untuk meluangkan waktu membalas semua email-WA-Line dari rumah, sebelum sore nanti mengikuti beberapa pertemuan.

Pagi tadi, ibuk masuk kamar dan meminjamkan ponselnya untukku membalas pesan singkat yang ku kirim kemarin ke salah satu yayasan terkait kunjungan mahasiswa. Ya… jaringan internet membuatku (kadang-eh sering) lupa untuk isi pulsa. Usai berkomunikasi via pesan singkat, ku kembalikan ponsel ibuk tapi beliau malah ga mau,

“Ya sudah bawa saja dulu, siapa tahu nanti perlu.”

Dan ibukpun berangkat ke sekolah. Aku tersenyum haru. Terlalu sensitif mungkin, jika harus sampai menitikkan air mata. Tapi keikhlasan ibuk sekecil apapun bentuknya selalu membuatku bersyukur terlahir di sini. Untuk hal yang tidak bisa kita pilih, aku bersyukur menjadi bagian keluarga ini.

Baru saja, kakak iparku (hey! aku belum cerita bahwa kakak semata wayangku telah menikah! *ah mungkin masih sulit untuk ku percaya, tapi dia (akhirnya) menikah juga! haha.. nanti aku cerita lagi tentang kesomplakan ini. *smirk*).

Ok! balik ke kakak iparku. Read more